Kamis, 08 November 2007

The Struggle Still Continue


Diskriminasi, satu kata yang paling lekat dikalangan para pemusik Metal di Indonesia, dari yang dipandang sebelah mata hingga pertarungan harga diri antar player. Gimana bisa maju dan berkembang kalo semua itu masih berlaku di lingungan kalangan industri musik. but nggak berarti mereka yang berjuang itu tak berpotensi. Justru mereka lah para pejuang murni, berteriak tentang idealisme, kekuatan lyrics yang pedaz dan berjuang melawan diskriminasi dalam selera musik. siapa yang harus disalahkan? tak perlu tunjuk siapa yang paling benar, koreksi diri sendiri merupakan hal yang paling tepat seperti dalam kutipan berikut,
"Sebetulnya hanya soal 'kebiasaan' telinga dan bukan ukuran pasti arah musik di tanah air kita atau juga kata terakhir tentang musik kita. Dengan anggapan yang sedikit banyak membuka ruang pada kehadiran warna musik lain seperti itu, orang menjadi lebih terbuka pada keragaman dab disparitas. Apalagi warna musik sedikit banyak menyentuh aspek kognitif (keseluruhan pribadi bukan hanya emosi, perasaan)". //Tabloid GENIE edisi 20 th ke IV, 05-11 Nov 07//. So what ur next idea? kenapa sih kita tidak lebih terbuka terhadap musik yang dianggap urakan, chaos dsb ,daripada harus terus bersama dengan sebuah kata-kata basa-basi dan sebuah bumbu kemunafikkan, dibuai dengan sebuah perasaan yang terlalu dibuat-buat(mendramatisir), biarlah semua itu aapa adanya menjadi sebuah rangkaian lirik yang menyatu dengan perasaan hati bukan melalui kemunafikkan dan basa-basi yang basi.

Tidak ada komentar: